Oleh; Hendrajit*
Keberhasilan Anis Matta
menggantikan Luthfi Hasan Ishaq sebenarnya seperti pucuk dicinta ulam
tiba bagi Anis. Bayangkan. Sejak awal Anis selalu jadi sekjen Partai
Keadilan Sejahtera (PKS), siapapun Presiden PKS. Berarti
ini
orang sangat kuat pengaruh dan kuku-kuku kekuatannya di partai yang
berbasis Ikhwanul Muslimin ini. Para figur semacam Tifatul Sembiring dan
Hidayat Nur Wahid, memang kader-kader PKS yang dibina oleh Ikhwanul
Muslimin yang berhasil dijinakkan oleh mantan agen non organik dari
BAKIN bernama Suripto. Sementara orang-orang model Anis Matta dan
jaringan pendukungnya di PKS, sebenarnya berasal dari jalur lain di
luar
IkhwanulMuslimin. Dan tidak berbasis pada pengaruh para Ulama Salaf
yang tergabung dalam Ikhwanul Muslimin. Sehingga motivasi dan
agenda politiknya jauh lebih pragmatis.
Jadi, dengan kepemimpinan PKS di bawah kendali Anis Matta, kayaknya PKS
akan semakin pragmatis dan kompromistis dalam membaca angin
politik
jelas 2014 mendatang. Kalau menelisik jalur kontak dan jaringan
perkawanannya yang dekat dengan para aktivis penggerak NASDEM, tampaknya
kemungkinan terjalinya kerjasama PKS-NASDEM bukan hal yang terlalu
mengada-ada.
Kalau ditelisik ke belakang bagaimana
anaknya Wiranto bisa direkrut dan dikaderisasi oleh PKS, juga berkat
kerja politik jaringannnya Anis Matta. Berarti ini orang, di luar jalur
Ikhwanul Muslimin, ada dukungan kuat dari jaringan tidak kasat mata baik
dari dukungan finansial grup konglomerat tertentu, maupun dari jaringan
militer/intelijen di luar orbit pengaruh Suripto. Untuk sementara
dugaan saya, berasal dari Cendana Grup. Jadi, klop lah dengan NASDEM
yang notabene berada dalam orbit BIMANTARA GRUP. Meski Surya Paloh dan
Hary Tanoe, terkesan sudah pecah kongsi.
Bagaimana
kita membaca kejadian sesunguhnya di balik skandal keterlibatan mantan
Presiden PKS Luthfi Hasan? Menurut penglihatan saya, saat ini memang
sedang terjadi perpecahan
serius
di kubu PKS antara faksi IkhwanulMuslimin dan faksi PKS non Ikhwanul
Muslimin pimpinan pimpinan Anis Matta yang sekarang jadi Presiden
partai. Buktinya, Ketua Fraksi PKS dari faksi Ikhwanul Muslimin Hidayat
Nur Wahid menyatakan ada konspirasi besar terkait penetapan Luthfi
sebagai tersangka. Luthfi Hasan Ishaaq terkait dugaan keterterlibatannya
dalam suap kuota daging impor.
Terlepas moralitas Luthfi Hasan memang rapuh sehingga jadi sasaran empuk "operasi intelijen/
special operation"
menggusur dirinya dari tampuk kekuasaan, namun pada dasarnya ini bukan
sekadar buah dari konflik internal antara para kader PKS dari jalur
IM/Suripto versus jalur Anis Matta yang non IM. Hal ini menggambarkan
sedang adanya pertarungan anta elit-elit strategis di luar lingkaran
internal masing masing partai. Yang muaranya adalah terbentuknya FORMASI
BARU ELIT NASIONAL 2014. Dan pada tataran ini, PKS di bawah
kepemimpinan Luthfi Hasan yang dari faksi IM dan orbit pengaruh Suripto,
dirasa tidak bisa klop dengan skenario besar membentuk Formasi baru
elit nasional tersebut. Maka operasi khusus KPK menjaring Luthfi Hasan
tersebut harus dibaca sebagai bagian dari skenario besar memunculkan
Anis Matta sebagai kekuatan baru tanpa saingan di PKS.
Bagaimana perbedaan pola rekrutmen keanggotaan IM dan non IM?
Kalau
IM penggalangan dan rekrutmennnya berbasis di kampus dan masjid.
Haluan ke-Islaman yang dikembangkan oleh Faksi IM merujuk pada Hasan al
Bana dari Mesir. Ikhwanul Muslimin atau Al Ikhwan al Muslimun secara
harfiah diterjemahkan Organisasi Persaudaraan Muslim, dan didirikan
pada 1928 oleh Hasan al-Banna. Adapun rujukan ke-Islaman yang jadi induk
ajaran berasal dari Rashid Rida.
Inti ajaran Rashid Rida yang diyakini dan dianut oleh IM Mesir dan pada perkembangannya diadopsi oleh para kader-kader IM di
Indonesia
melalui Hilmi Aminuddin dan kawan-kawan, adalah Islamisme politik.
Bahwa Islam adalah satu-satunya jawaban untuk memecahkan berbagai
masalah sosial-budaya, ekonomi dan tentu saja politik. Untuk tegasnya,
tidak ada pemisahan antara negara dan agama. Slogannya yang terkenal:
AL QURAN ADALAH PEDOMAN KAMi. JIHAD ADALAH JALAN KAMI. MATI SYAHID
ADALAH TUJUAN KAMI. Bahkan ditegaskan dalam sebuah brosur mereka: "Jika
ada orang bilang kepadamu (kader) ini adalah politik, katakanlah bahwa
ini adalah Islam."
Uniknya dari IM Mesir yang kemudian
lingkup dan eskalasinya semakin meluas dan melebar justru di
masjis-masjid dan perguruan tinggi di Eropa dan
Amerika, menyusul kedatangan Said Ramadan, anak menantu Hasan al Banna, ketika meneruskan studi hukumnya di Jerman.
Para kader-kader Indonesia sepertinya merujuk pada model yang
dikembangkan oleh Said Ramadan dalam pengembangan basis dan jaringan IM
di kawasan Eropa, dengan bertumpu pada basis masjid dan
perguruan-perguruan tinggi yang ada di Eropa. Tak heran meski sikap
mereka sangat radikal dalam meyakini dan memperjuangkan Islamisme
politik dan Islam sebagai
ideology
negara, namun cita rasanya sangat barat seperti dalam berpakaian, dalam
mengelola dan mengembangkan organisasi-organisasi sosial, maupun dalam
penggunaan teknologi dan mengakses informasi.
Gambaran sekilas mengenai
profil kader dan organ-organ yang merujuk pada IM di Eropa, pada perkembangannya menjadi
role model
atau rujukan bagi para kader-kader Im di Indonesia. Tujuan strategis
kelompok ini adalah menjadi elemen-elemen kunci kelas menegah Indonesia
yang berbasis di kampus perguruan tinggi dan masjid-masjid di Indonesia.
Karena paham ke-Islaman model IM ini sangat tidak mengakar di
pesantren-pesantren berpaham Ahlul Sunnah wal Jamaah yang notabene
merupakan tradisional Islam.
Metode Hasan al Banna
yang kemudian dikembangkan oleh Said Ramadan dalam menggalang
calon-calon kader IM di Eropa adalah dengan mengidentifikasi sebuah
permasalahan dalam suatu masyarakat, kemudian memecahkannya. Kelompok
tersebut dapat membantu membangun masjid atau sekolah, atau
mengembangkan
industri lokal. Dari sini jelas bahwa melalui metode ini,
output profil kader-kader IM adalah menjadi aktivis dan penggerak sosial di semua bidang kehidupan masyarakat.
Bahkan gilanya lagi, dalam konsepsi rancangannya tentang pengembangan IM, juga didirikan apa yang disebut "Badan Khusus"
semi militer IkhwanulMuslimin. Bagi Banna, maksud dari sebuah organisasi keagamaan memiliki sayap militer sama sekali tidak aneh.
Nah profil kader-kader IM yang berbasis di kampus-kampus dan
masjid-masjid inilah yang sejak era 1980-an mulai dibina oleh Badan
Koordinasi Intelijen
Negara/BAKIN.
Pada tataran inilah, Suripto, agen intelijen non organik dari BAKIN,
ditugaskan untuk mengontrol sekaligus membina kader-kader IM yang kelak
pada saat reformasi dan pemilu 1999, bermetamorfosa sebagai Partai
Keadilan.
Dan pada pemilu 2004, berobah menjadi Partai Keadilan
Sejahtera (PKS) hingga sekarang. Untuk menjinakkan kader-kader IM namun
pada saat yang sama tetap menjaga radikalisme paham ke-Islaman mereka
yang merujuk pada Hasan al Banna dan cendekiawan Muslikm Rashid Rida,
Suripto bertumpu pada sosok di dalam IM yaitu Hilmi Aminuddin.
Begitulah. Tifatul Sembiring, Hidayat Nur Wahid dan Luthfi Hasan Iskaq
merupakan kader-kader Hilmi Aminuddin, yang berarti juga berada dalam
orbit pengaruh Suripto hingga sekarang.
Lalu bagaimana pola dan
modus operandi faksi PKS non IM dalam menjaring kader-kadernya untuk masuk dan bergabung sebagai anggota/kader PKS?
Kalau
faksi non IM PKS penggalangan dan penjaringan anggota dan kader PKS
melalui yang disebut Tarbiyah. Semacam kelompok studi/pengkajian/atau
pengajian. Profil para anggota yang dijaring umumnya orang orang awam
tapi punya tingkat pendidikan yang relatif bagus. Karena mereka ini
tidak dalamn bimbingan dan pembinaan ideologis dari faksi IM di PKS,
maka orientasi politik Keislaman yang mereka jaring adalah orang orang
yang kecewa terhadap figur atau organisasi Muslim
seperti NU dan Muhammadiyah. Alhasil, meski PKS terkesan solid, jalur
non IM inilah yang rawan terhadap gelombang pragamtisme dan oportunisme
yang melanda semua partai yang ada, baik yang berhaluan keagamaan maupun
yang berhaluan kebangsaan.
Sekarang, dengan
terseretnya Presiden PKS Luthfi Hasan dalam korupsi impor sapi, maka
faksi PKS dari IM yang berada dalam orbit Suripto, mengalami kekalahan
politik yang cukup melumpuhkan. Sayangnya, hampirsemua pemberitaan
terlalu fokus pada besarnya kekayaan Luthfi Hasan. Padahal yang penting
digali informasinya adalah, dari jalur mana operasi khusus menjebak
Presiden PKS itu berasal. Karena kalau Hidayat Nur Wahid menyebut ini
sebagai konspirasi besar, maka elemen elemen di dalam PKS itu sendiri
juga ikut bermain. Agaknya, ini adalah kekalahan telak kubu Suripto dan
faksi Ikhwanul Muslimin di dalam tubuh PKS. Pertanyaan menarik sekarang,
apa manuver Suripto untuk membalikkan keadaan menjadi remis di dalam
internal PKS maupun dalam permainan politik di lingkup
nasional.
Mencermati apa mamnuver Suripto di PKS saya kira cukup menarik
mengingat kenyataan bahwa Suripto lah yang selama ini menjadi "mentor
politik" para kader-kader PKS dari jalur IM sejak zaman pemerintahan
Suharto di era orde baru. Bukan itu saja. Pada saat memanasnya situasi
politik Mei 1998 menuju tumbangnya Presiden Suharto, Suripto merupakan
salah satu mentor gerakan Mahasiswa angkatan 1998 dari organ
kemahasiswaan KAMMI(Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) yang para
anggotanya semua dari unsur Ikhwanul Muslimin.
Beberapa alumni KAMMI yang kemudian masuk Partai Keadilan dan kemudian
PKS seperti Fahri Hamzah dan Rama Pratama, kemudian masuk menjadi
anggota DPR-RI bersama-sama dengan Luthfi Hasan, Iwan Prayitno, Hidayat
Nur Wahid, Nur Mahmudi Ismail, dan Tifatul Sembiring.
Sementara itu, Anis Matta bergabung dengan PKS namun dari jalur non IM,
dan kemudian mengembangan jaringan dan basis kekuatannya melalui
Tarbiyah tersebut di atas. Dan pada perkembangannya, Anis Matta malah
lebih dekat dengan jaringan sayap militer yang menginduk pada Jendral
Wiranto. Apalagi ketika pada masa masa awal konsolidasi PKS, Wiranto
masih menjabat Panglima TNI. Jabatan yang waktu masih sangat
strategis tidak saja secara kemilitran, tapi juga secara politis.
Yang unik dari koalisi antara faksi IM dan non IM yang berada dalam
kendali Anis Matta, Anis selalu menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PKS
siapapun yang menjadi Presiden PKS. Maklum, karena Presiden PKS selalu
berasal dari faksi PKS asal IM. Namun rupanya, pengaruh dan kuku-kuku
kekuasaan Anis Matta cukup kuat dan mampu mengimbangi pengaruh Suripto
lewat IM.
Pada pemilu 2004 dan 2009, sikap politik PKS
dalam pemilihan presiden selalu dengan dasar pertimbangan pragmatis dan
oportunistik, dan sama sekali tidak ideologis seperti cirri khas dari
warna politik IM. Di sinilah bukti nyata pengaruh dan kekuatan politik
Anis Matta sehingga pada pemilu 2004 PKS memihak Jenderal Wiranto pada
putara pertama, dan SBY pada putaran kedua.
Padahal,
pada pemilu 2004 Partai Islam berhaluan modernis Partai Amanat Nasional
(PAN) memutuskan untuk mengusung duet Amien Rais-Siswono Yudo Husodo.
Namun dengan pertimbangan pragmatism dan oportunismenya, PKS lebih
memihak calon calon dari kalangan militer seperti Wiranto dan SBY
daridapada Amien Rais yang bagaimanapun juga masih mengidentifikasi
dirinya sebagai figure dari kalangan Muslim.
Sedangkan
pada Pemilu Presiden 2009, PKS juga dengan pengaruh dari Anis Matta,
mendukung duet Jusuf Kalla-Wiranto, yang kemudian di putaran kedua juga
akhirnya berpaling ke duet SBY-Budiono.
Dari sini
sudah tergambar bahwa Anis Matta bekerja untuk jaringan militer yang di
masa orde baru dekat dengan Cendana Group, khususnya BIMANTARA GROUP
pimpinan Bambang Trihatmojo.
Apakah ini berarti PKS di
bawah kepemimpinan Presiden Anis Matta akan mencalonkan kembali Wiranto
pada pemilu 2014? Itu memang bisa jadi salah satu kemungkinan. Namun
tidak tertutup kemungkinan lain yang jauh lebih strategis daripada
sekadar mendukung Wiranto yang dari segi usia sebenarnya sudah tidak
akan popular lagi di mata masyarakat.
Kemungkinan
kedua, Anis Matta mungkin akan menjadi mata-rantai penting dari
terbentuknya KONFIGURASI ELIT STRATEGIS BARU pada 2014 mendatang.
Terlepas masih akan tetap muncul dari sistem dan aturan main pemilu
seperti 2004 dan 2009, atau akan muncul dari sistem dan aturan main baru
di luar kerangka dan skema Pemilu 2004 dan 2009.
Jika skenario ini benar, Anis Matta dan PKS akan menjadi operator
politik penting dari Bimantara/Cendana Group dan tetap dalam koordinasi
politik baik dengan Surya Paloh maupun Hari Tanoe. Dua Bandar politik
besar yang akan bertindak sebagai "King Maker" calon presiden Indonesia
2014.(IRIBIndonesia/theglobal review/PH)
*Direktur Eksekutif Global Future Institute
Source :
http://indonesian.irib.ir